Jariku
menunjuk nama demi nama di papan pengumuman. Aku sangat berharap namaku ada
diantara siswa yang beruntung itu. Jantungku berdegup kencang dan
keringat dingin membasahi sela-sela jari. Jari ini bergerak dari satu kertas ke
kertas lainnya. Hingga jari ini berhenti dan menunjuk sebuah nama. Musa Bin
Shabri. “Alhamdulillah ya Allah aku diterima” ucapku dengan rasa syukur
yang tak terkira. Aku diterima di SMP MARTAPURA dengan jalur beasiswa.
Angkot yang aku tumpangi tak terasa panas hari ini, keringat ibu-ibu yang
pulang dari pasarpun tercium wangi. Aku sudah tak sabar ingin sampai di rumah
dan mengabarkan keberhasilanku ini kepada Ibu. Baru kali ini aku dapat membuat
mereka bangga. Tentunya dengan beasiswa yang kuterima ini, Ayah tak harus
memikirkan beban biaya sekolahku nanti.
Tiba di rumah pintu terbuka lebar, aku melihat ayah
sedang duduk diruang tamu dengah wajah penasaran melihat aku tersenyum-senyum
di depan pintu. “ kelihatanya lagi senang, ada kabar baik apa musa?” tanya
ayah. Aku pun menjawab dengan pelan, “ Alhamdulillah aku di terima di SMP
Martapura, sekolah ini termasuk favorit. Banyak siswa dari berbagai sekolah
yang menginginkan bersekolah disana”. Tiba-tiba Ayah mengatakan “tidak boleh
musa sekolah disana!”.
“Kenapa tidak boleh Ayah?” kataku dengan mengiba. Hati menjadi
penasaran, ingin tau kenapa Ayah tak mengizinkanku bersekolah di SMP
MARTAPURA.
“Ayah ingin kamu tetap bersekolah di Pondok Pesanten Hidayatullah?” ujar
Ayah dengan menepuk-nepuk pundakku.
“Tapi Ayah, aku sudah dapat beasiswa, jadi Ayah tak perlu memikirkan biaya
sekolahku lagi” kataku dengan sedikit memaksa.
“Anakku, dengarkanlah
Ayah, meskipun Ayahmu ini kerjanya serabutan, kadang bekerja kadang nganggur
tapi Ayah masih mampu membiayaimu sekolah. Ayah akan mencari tambahan pekerjaan
agar dapat mencukupi hidupmu di pondok pesantren” ujar ayah meyakinkanku.
“Dari mana uangnya?,
Saat ini biaya di pondok pesanten sangat mahal!”
“Dari Allah!” ujar Ayah sembari meninggalkanku menuju ke samping rumah. Jawaban
Ayah tadi membuatku tersentak. Aku terpaku tak hentinya memikirkan ucapan
beliau. Aku hanya tak ingin menjadi beban beliau. Kini beliau sudah mulai
menua, uban putih sudah memenuhi kepalanya, sepertinya ia sudah tak kuat untuk
mencangkul lebih lama lagi. “Ya Allah, luluhkanlah hati Ayahku?”, kataku
perlahan, tiba-tiba Ibu merangkulku dari belakang dan menciumku sangat lama.
“Musa, Ayahmu benar. Allah akan mencukupinya. Turutilah Ayahmu, Nak” kata Ibu
dengan suara lembutnya. Akupun hanya membisu, tak tahu harus berkata apa.
“Musa, apa kamu mendengar ucapan Ibu?” ujar ibu padaku
“Iya Bu, Musa mendengarnya. Baiklah Bu, Musa akan menuruti perkataan Ayah. Musa
akan meneruskan ke Pondok Pesantren” akupun berlalu meninggalkan Ibu seorang
diri.
“Ya Allah, semoga melepas beasiswa di SMP MARTAPURA merupakan keputusan
yang benar, dan semoga aku tak menyesalinya kelak”.
***
Hari ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pondok pesanten Hidayatullah. Aku kebingungan, mata
ini tak henti-hentinya memandangi tembok-tembok tinggi pesantren. Tembok itu
terasa sangat dingin padaku. Semakin kupandang semakin membuatku merasa kecil
dan asing. “Ya..Allah, mudahkan aku dalam menuntut ilmu” bisikku sembari
mencari tempat istirahat.
“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di masjid” kataku sambil membuka sepatu.
Kemudian terlihat seseorang laki-laki berjenggot mendekatiku.
“Akhi, antum santri baru ya? Namanya siapa?” katanya sambil
mengulurkan tangan padaku.
“Oh..iya mas. Saya Musa Bin Shabri, panggil aja Musa”
“Aku M.Noor. Satu tahun diatasmu. Semoga nanti betah ya di pesantren”
“Iya mas, amin. Permisi mas, mau ambil wudhu dulu”
“Oh…iya silahkan”
Akupun bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat
ashar berjamaah. Seusai sholat tak lupa aku memanjatkan doa untuk kedua orang
tuaku. Entah kenapa baru sehari saja meninggalkan rumah aku sudah ingin segera
kembali. Saat itu aku teringat pesan Ayah ketika aku hendak berangkat ke
Pesantren.”Musa, jaga dirimu baik-baik di pesantren. Hafalkan Al-Quran. Nak.
Ayah ingin melihat kamu menjadi orang yang berilmu dan mulia. Kemudian
terbayang pula wajah teduh Ibu yang sangat menyayangiku.”Anakku,Ibu
mencintaimu karena Allah”
Setelah
satu bulan di pondok pesantren…
Awal hidup di pesantren memang tak semudah yang aku bayangkan. Aktivitas dari
bangun pagi hingga kembali tidur sudah diatur melalui selembar kertas yang ditempel di dinding
kamar masing-masing. Jam
tiga pagi, selalu
ada pendamping yang siap meneriaki kami untuk segera bangun untuk melaksanakan
shalat tahajud. Setelah itu kami harus menghafalkan Al-Quran sembari menunggu
adzan shubuh tiba
“Sudah hafal berapa juz dik?” kata mas Noor padaku.
“Waduh mas, masih sedikit. Masih tiga juz mas” kataku
nyengir.
“Alhamdulillah, terus semangat! Allah menyukai
orang-orang yang dekat dengan Al-Quran. Tapi Dek, sudah coba menguji hafalmu
kan?” ujar mas Noor menambahi perkataanya.
“Sudah mas, sudah saya setor ke Ustadz. Beres lah…”
“Hahaha, kamu lucu sekali. Bukan itu maksudnya Musa!. Begini, maksud kakak, cobalah kamu
gunakan hafalanmu ketika shalat sunnah. Perpanjanglah bacaan dengan surat-surat
yang sudah kamu hafal” ujar mas Noor sembari meninggalkanku.
“Oo begitu…baikklah mas, akan Musa coba. Sukron Mas!” teriakku pada mas Noor yang
telah berlalu.
Akupun mencoba saran dari Mas Noor untuk menggunakan hafalan
dalam shalat sunnahku. Subhanallah, ternyata yang tadinya hafal menjadi
terbata-bata ketika digunakan saat shalat.
---
“Ayah sehat Bu?” tanyaku kepada Ibu lewat telepon.
“Alhamdulillah nak, semua sehat. Musa, maaf bulan ini kami
tidak bisa mengirimi uang yang cukup buatmu. Sementara pakai uang yang ada
dengamu dulu ya nak. Insya Allah jika ada
rezeki lagi akan Ibu kirim uangnya” ujar Ibu.
“Iya Bu, tidak apa-apa. Insya Allah ini cukup Bu” kataku
pada Ibu agar ia tak terlalu mecemaskanku.
“Bagaimana hafalanmu Nak? Sudah dapat berapa juz?”
“Sudah dua juz Bu”
“Semoga Allah memudahkanmu dalam menuntut ilmu. Ibu dan Ayah
hanya dapat mendoakanmu dari jauh. Tadi ayahmu titip pesan Nak, meskipun dalam
kesempitan jangan
lupa bershodaqoh. Ya sudah, ibu tutup dulu teleponnya. Wassalamualaikum..”
“Waalaikumsalam...”
Rasa rindu kepada orang tua sedikit terobati dengan telepon tadi. Setelah enam
bulan lebih aku dipondok, ini bukan pertama kalinya mereka tidak bisa mengirim
uang yang cukup untukku. Beberapa kali aku harus bersabar karena tidak ada uang
sepeserpun di kantong. Aku pegang sisa-sisa uang yang kupunyai. Agar tak
terlupa, uang untuk shadaqoh segaja aku sisihkan dari dompetku. Ayah
mengajarkanku sejak kecil bahwa ada hak-hak orang lain di dalam uang yang kita
miliki. “Aku lelah sekali!” pikirku sembari merebahkan badan di kasur dan berharap agar segera bisa
tertidur.
Malampun berganti, kokok ayam jantan mulai terdengar satu per satu. Suara
kicauan burung pipit juga ikut meramaikan subuh pagi ini. Sebelum suara adzan
berkumandang, segera aku selesaikan makan sahurku. “Ya Allah, aku berniat berpuasa daud. Kuatkanlah tubuhku hinga sore
hari. Amin”. Saat uang menipis, biasanya aku menjadi sangat rajin untuk
berpuasa. “Semoga
itu tak mengurangi ensensi puasa” gumamku dalam hati.
Dengan semangat juang untuk mencari Ilmu Agama kulangkahkan kaki menuju gedung
madrasah. Pagi ini sinar matahari nampak cerah. Kulihat ribuan santri
berduyun-duyun menuju kelas. Namun langkahku terhenti ketika tepat berada di
depan papan pengumuman. Dalam pengumuman itu tertera bahwa lusa akan diadakan
seleksi pertukaran pelajar ke Malang. “Aku harus ikut!” kataku sambil menulis
persyaratan-persyaratan yang harus aku lengkapi. Saat itu pula aku segera
berlari ke kantor untuk meminjam telepon. Aku akan meminta izin dan mohon doa
pada kedua orang tuaku.
“Musa, bagaimana hasilnya?” tanya Ayah padaku.”
“Aku lolos. Ayah, aku tidak menyangka akan terpilih”
“Alhamdulillah ya Allah.Selamat ya Musa. Anakku, yang perlu kamu
ingat Nak, kamu lolos itu karena Allah, bukan karena kepandaian dan
kemampuanmu” ujar Ayah padaku.
“Iya, Musa mengerti”
“Oh iya Nak, Ibumu seminggu ini tak henti-hentinya
mendoakanmu. Ia selalu bangun untuk shalat tahajud.
“Sampaikan terimaksih Musa pada Ibu” kataku pelan sambil
berusaha menahan air mata.
“Musa, mengapa suaramu terdengar tak bersemangat. Apa ada
yang kamu pikirkan nak?” tanya Ayah kepadaku.
“Ayah, ada biaya administrasi yang harus dipenuhi.
Sepertinya aku tak usah berangkat saja ke Malang. Biayanya mahal…”
“Berapa nak?”
“5 juta”
“Berangkat saja! Sudah nak, kamu ga usah mikirin biaya. Biar
Ayah saja yang urus. Karena Allah telah memberimu kesempatan untuk mencari ilmu
di Malang, tentunya Allah pula yang akan membiayai dan mencukupi pendidikanmu
disana. Yakini itu Nak, janji Allah itu pasti!” kata Ayah meyakinkanku. Hatiku
bergetar tiada henti. Sungguh aku dapat merasakan kenikmatan dari ucapan
Ayahku, ucapannya begitu teduh dan penuh dengan keyakinan pada Allah.
“Terimakasih Ayah…”
Saat ini aku berada dalam pesawat terbang menuju Malang.
Hatiku sangat bahagia. Aku bahagia karena orang tuaku memiliki rasa cinta
pada Allah yang begitu besar. Benar kata Ayah. Allah akan mencukupinya. Subhanallah,
semua biayaku ke Malang bukan berasal dari kantong Ayahku, namun dari beberapa
teman Ayah dan ustadz-ustadz di daerahku yang menginfaqkan hartanya untuk
memudahkan orang yang menuntut ilmu agama. Ternyata, percaya pada Allah itu
lebih dari cukup. Percayalah pada
Allah maka keajaiban-keajaiban akan terjadi pada kehidupanmu …. “Allahu Akbar…!!”
Bersambung...
Penulis: Musa Bin Shabri


KOMENTAR