![]() |
| Semangat Hari Pahlawan 10 November 2017 LPM Al-Mumtaz IAIN Palangka Raya |
Selamat hari pahlawan kaula muda para generasi milenials, para peminat
instagram. Generasi boleh berubah pola hidup boleh modern namun sejarah
tetaplah harus diingat dan dimaknai sebagai sebuah pembelajaran yang begitu
berarti. Ada hikmah-hikmah yang dapat kita petik dalam mempelajari sejarah,
setidaknya kita bukanlah pemuda yang bagai kacang lupa kulit.
Jika sejarah mencatat perjuangan dalam meraih kemerdekaan, memperjuangkan
hak-hak masyarakat pribumi, memerlukan pengorbanan yang teramat memahitkan.
Harta, keluarga, hingga harga diri dan nyawa sekalipun diserahkan demi
mendapatkan kemerdekaan. Sang proklamator pernah berpesan bahwa, “Bangsa yang
besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”.
Pemuda yang bijak tentulah memahami makna menghormati bukan sebatas
mengucapkan Selamat Hari Pahlawan atau hafal nama-nama pahlawan proklamasi dan
nasional. Dengan semangat dan cita-cita setinggi-tingginya, ia membangun
kepercayaan diri dan terhadap bangsa ini. Bahwa kita bukanlah generasi yang
menjadikan perbedaan sebagai masalah dan bukan hanya pemuda pengikut yang
merasa puas menjadi buruh-buruhnya perusahaan atau kantor-kantor asing.
2030 adalah tahun Indonesia menjadi negara terkaya ke-5 dunia dan pemuda
lah ujung tombak yang menentukan apakah cita-cita itu akan terwujud atau hanya
sebatas mimpi besar bangsa. Maka, percaya dirilah bahwa kita mampu membuktikan
kualitas diri sebagai penerus perjuangan, bukan followers yang
membangga-banggakan negara asing dan merasa pesimis terhadap diri dan bangsa
sendiri. Tinggal kemauan dan komitmen pemuda zaman now, hanya ingin menjadi
pengikut dan penikmat produk-produk asing yang perlahan menggruguti ekonomi
bangsa, mengukung kreatifas dan mengikis moral.
Ukirlah sejarah baru yang lebih indah, manfaatkan kecanggihan teknologi
informasi yang tersedia sebagai bahan dan alat belajar, jangan hanya tertunduk
lalu melamun dan puas menikmati suguhan-suguhan dunia maya lalu lupa diri bahwa
kita adalah penerus bangsa. Lebih tragis lagi, kalo kita hanya sibuk memikirkan
bagaimana caranya mengisi kertas-kertas dengan huruf-huruf atau angka-angka.
Hingga lupa hakikat diri sebagai manusia yang hadir untuk bermanfaat bagi
lingkungan. Mari berpikir keras dan bertindak cerdas, untuk cita-cita setinggi
bintang karena mimpi kita mempengaruhi terwujudnya cita-cita bangsa.
Eva
Mahasiswa biasa, penikmat novel karangan A. Fuadi. Sedang belajar untuk menulis karya yang bermanfaat



KOMENTAR