Mengapa Kita Gemar Menelurkan Hoax?
Oleh:
Arifin
IAIN
PALANGKA RAYA
KOMUNIKASI
DAN PENYIARAN ISLAM
Beberapa
hari yang lalu beranda Facebook penuh dengan share-an tentang BFF. Katanya, ketika pengguna mengetik kata BFF
dan tulisannya menjadi warna hijau maka akun kita mendapatkan pengamanan.
Tidak
hanya sampai di situ, konten informasi itu juga ditambahkan dengan memuat foto
CEO Facebook bertuliskan “Mark Zuckerberg, CEO Facebook, menemukan kata BFF,
untuk memastikan akun anda aman di Facebook. Ketik BFF di komentar, jika
terlihat hijau, akun anda dilindungi. Jika tidak muncul warna hijau, ubah kata sandi anda segera
karena mungkin diretas oleh seseorang”
Foto
dan tulisan yang dipadukan dengan jurus cocoklagi
itu ternyata banyak menarik perhatian netizen
sehingga banyak yang membagikannya dengan caption
beragam, salah satunya, ada yang dengan
percaya diri secara religius menyebut mari berbagi manfaat dengan membagi ini.
Pertanyaannya,
tahukah mereka bahwa informasi itu hoax?
Teks BFF itu adalah hanya sebuah fitur berwarna atau dalam istilah Facebook
yaitu Text Delight. Dengan kata lain di Facebook
memang ada tulisan tertentu yang jika diketik menghasilkan efek tertentu.
Salah
satunya adalah kata BFF singkatan dari best
friend forever itu yang jika diketik akan memunculkan tulisan BFF-nya
berwarna hijau. Jadi, ini tidak ada hubungan sama sekali dengan aman atau
tidaknya akun kita.
Namun
nampaknya hoax itu tidak disadari
sebagian netizen hingga banyak yang menyebarkannya. Ini seperti lingkaran marmut
merah jambu yang tiada akhir. Korban yang terperdaya membagikannya, dan share-an itu mendapatkan korban lagi,
yang kemudian akan membagikannya lagi. Dan seterusnya sehingga beranda penuh
dengan aktifitas itu.
Ini
tentu saja menggelikan, tulis saya di dinding Facebook menanggapi hal ini.
Karena sebenarnya tidak sulit untuk mengetahui bahwa konten informasi itu hoax. Dan mungkin sebagian dari netizen ini juga tahu bahwa itu hoax. Lalu mengapa tetap disebarkan
juga?
Alaaah ini kan buat ramai-ramai saja. Memang benar
kok, jika ditulis warnanya berubah hijau, kami memang suka mencoba fitur-fitur
facebook. Jangan sembarangan tuding orang menyebar hoax deh.
Begitu
reaksi mereka di kolom komentar saya. Saya menghela nafas seketika. Mungkin hal
ini yang membuat sebagian netizen di
negara kita suka sekali menelurkan hoax.
Pertama,
sebagian dari kita barangkali tidak sadar atau bahkan tidak tahu sama sekali
bahwa kita sedang menyebar hoax.
Jadi
begini ya. Ada perbedaan mendasar antara yang hanya sekedar informasi, dan pada
konteks apa informasi itu disebarkan.Informasi yang benar bisa menjadi
kebohongan jika disebarkan bukan pada
porsi dan fungsinya.
Nah,
bahwa di Facebook ada fitur yang me
nyediakan jika mengetik tulisan BFF akan
menghasilkan tulisan hijau itu adalah informasi yang benar. Dan itu sah-sah
saja dilakukan bahkan disebarkan. Namun pada konteks itu adalah hanya sekedar
fitur Facebook.
Dia
akan menjadi masalah jika disebarkan dengan narasi bahwa dengan mengetik itu
akan membuat akun kita mendapatkan pengamanan. Karena di Facebook cara
mendapatkan pengamanan bukan melalui cara itu. Apalagi dicocok-cocokkan dengan
foto CEO Facebook bahkan ada foto Donald Trump, supaya banyak yang percaya
dengan narasi ini.
Ini
tentu saja akan melanggengkan budaya memelihara aktivitas produksi dan
konsumsi hoax. Ini mungkin hanya berefek ringan. Namun coba bayangkan jika
aktivitas ini dianggap hal-hal yang
biasa saja. Maka ke depannya kita akan sulit menanggulangi hoax.
Atau
yang menjadi hoax adalah isu yang
berbahaya, misal, pada minggu sebelumnya juga beredar konten tentang telur
palsu yang dikaitkan dengan narasi bahwa itu adalah cara orang asing merusak
bangsa kita. Atau ada konten kebangkitan PKI hanya dengan bermodal foto-foto
Palu Arit dan berbagai foto dengan jurus cocoklogi.
Tentu saja konten itu hoax. Kita
harus melawan aktivitas-aktivitas yang menyebarkan hal seperti ini.
Hal
berikutnya yang menjadi alasan mengapa sebagian netizen
kita gemar menyebarkan hoax bisa
dilihat dari sisi psikologis mereka dalam bermedia.Muhammad Rifki Kurniawan
dalam tulisannya (2017) mengutip sebuah penelitian di Amerika yang diketuai
oleh Diego Fregolante menjelaskan bagaimana psikologi manusia yang gemar sekali
memiralkan informasi di media sosial.
Bahwa
laju informasi dan otak manusia yang lebih suka menanggapi media sosial dengan
emosional daripada rasional adalah penyebab netizen
suka sekali menyebarkan informasi dan membuat viral di media sosial.
Kaitannya
dengan netizen Indonesia adalah
secara emosional (salah satunya berkaitan dengan pemenuhan rasa senang) ada
semacam krisis eksistensi pada netizen kita.
Selau ada hasrat untuk membagikan sesuatu agar terkesan eksis di media sosial.
Semacam
over butuh pengakuan, sehingga
membuat mereka menjadi hanya pengikut tren, ada yang lagi ramai, maka mereka
harus ikut membagikan. Bahkan akan bangga menjadi orang yang pertama membagikan
informasi, hingga kadangkala abai memikirkan kualitas informasi itu, hoax atau bukan.
Selain
itu, dalam budaya literasi kita terjadi lompatan yang terlalu cepat. Dalam
artian, sebenarnya kita belum khatam
dan mapan dalam literasi tradisional lalu langsung melompat ke budaya
komunikasi digital.
Dalam
penelitian Central Connecticut State University US tahun 2016, dari 61 negara,
Indonesia berada di peringkat 60 dalam hal kegemaran membaca. Ini memungkinkan
bahwa sebenarnya sebagian masyarakat kita belum terbiasa mendapatkan informasi
dengan membaca. Tidak terbiasa Memahami makna teks dengan baik bahkan kritis.
Lalu
tiba-tiba saja didamparkan pada kegiatan bermedia sosial yang dikatan oleh
Morissan dalam buku Teori Komunikasi
Massa (2014) cara berkomunikasi dan
pesannya adalah berbasis pada teks. Berbeda dengan komunikasi interpersonal dan
berujar yang basis pesannya pada pemeran komunikasinya.
Atau
dalam analogi secara guyon kita bisa mengatakan, anak-anak yang ada pada zaman
Asterix & Obelix tiba-tiba saja diteleportasikan pada zaman kanak-kanak
pada kartun BEN 10. Bisa jadi sinar laser untuk menembak musuh dipakai untuk
penerang pada saat mati lampu oleh mereka.
Akhirnya,
memang fenomena hoax memberikan
tantangan dan tugas yang tidak pernah usai pada kita. Harus ada selalu
pembaruan-pembaruan usaha untuk melawan ini. Kita bisa bekerja sama
memaksimalkan potensi yang ada. Dengan memberikan pemahaman, counter informasi, kegiatan literasi,
bahkan peran dan peraturan pemerintah.



KOMENTAR