Widji Thukul termasuk
salah satu aktivis yang hilang pada periode hitam 1997-1998 di mana banyak
aktivis hilang, diculik, dan dibunuh secara misterius.
Bagi generasi pecinta
sastra zaman sekarang, adalah sebuah aib apabila tidak mengetahui Widji Thukul.
Widji Thukul yang memiliki nama asli Widji Widodo ini adalah seorang legenda
dalam dunia sastra. Terutama, sastra sebagai alat perjuangan bangsa.
Karya-karyanya
menghentak, memanaskan telinga penguasa saat itu. Puisinya menyadarkan jiwa
yang takut karena penindasan yang berlarut, mengajak para proletar untuk
bangkit bersama. Suaranya menggema, menembus zaman, tanpa badan.
Dia adalah aktivis yang
termasuk dalam peristiwa hilangnya para aktivis dalam peristiwa 27 Juli 1998.
Dia hilang bersama belasan pejuang lainnya. Sampai sekarang, kita tidak pernah
tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada penyair tanpa rasa takut ini.
Thukul (begitu sapaan
akrabnya) bukanlah seorang kaya raya yang hidup penuh kemewahan. Dia hidup
dalam keadaan yang serba sulit. Dia pernah mengamen puisi, berjualan koran,
menjadi calo tiket bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah usaha mebel.
Namun, kemelaratan tidak
serta-merta membelenggu hasratnya untuk melakukan perlawanan. Sebaliknya, dia
semakin berapi-api untuk menuntut keadilan. Dia beberapa kali memimpin aksi
massa untuk menyuarakan suaranya. Dia pernah ikut demonstrasi menentang
pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT Sariwarna, sebuah perusahaan
tekstil asli Solo. Dia juga pernah memimpin aksi petani di Ngawi, yang kemudian
berbuntut pada aksi pemukulan terhadap dirinya oleh aparat. Tidak hanya itu,
Thukul juga harus mengalami luka parah di mata kanannya, karena dihajar oleh
aparat ketika memprotes PT Sritex bersama para karyawannya.
Semua kekerasan yang
dialamatkan padanya, tidak lantas membuat Thukul menyerah. Dia terus melakukan
perlawanan. Aksi protes, puisi kritik, dan karya-karya berani terus dia
keluarkan. Hingga akhirnya, pada 27 Juli 1998, dia hilang dan tidak ditemukan
sampai sekarang.
Jasadnya boleh hilang.
Wujudnya boleh jadi tinggal sepotong foto dengan mata kanan yang terluka.
Namun, semangatnya masih terus hidup bersama para sastrawan masa kini. Di
zamannya, dia telah melakukan hal-hal besar yang seharusnya dilakukan oleh
sastrawan kritis. Puisinya bukan melulu soal cinta yang menentramkan. Bukan
pula soal Tuhan dan segala pertanyaan tentangNya. Puisinya adalah lambang
perlawanan, keberanian, dan semangat untuk tidak tinggal diam dalam cengkeraman tirani.
Kini, Widji Thukul sudah
hanya tinggal nama dan karya. Namun, mari kita jaga terus semangat yang dia
tularkan lewat karya-karya heroiknya.
please follow akun ig kami lpm.almumtaz.iainpky



KOMENTAR