Puasa
di bulan Ramadhan kita ketahui adalah Rukun Islam, yang harus ditunaikan oleh
kaum muslim di seluruh Dunia. Di dalam bulan suci Ramadhan Allah membukakan
pintu kebaikan agar semua hambanya menggunakan kesempatan ini sebaik-baik
mungkin, di dalam bulan suci Ramadhan terdapat pahala yang berlipat ganda,
sehingga membawa keberkahan bagi orang yang senantiasa berbuat baik di dalamnya.
Dari
kalangan umat muslim dalam memaknai aktivitas pada bulan suci Ramadhan yaitu
sebagai bulan yang penuh keramaian, kebaikan, ketenangan yang terkadang kurang
tepat. Misalnya banyak anak muda yang berselancar di media sosial dengan
mengungkapkan posisi dan kondisinya, menu berbuka puasa, padahal saudara kita
di daerah lain belum berbuka puasa, akhirnya terdapat sikap kurang tepat dalam
menggunakan media sosial. Tadarusan Al-Qur'an, i’tikaf di masjid dan lain lain, itu
semua tidak jadi masalah besar akan tetapi yang paling ironisnya adalah anak
muda yang berselancar sepanjang kasur dan tidur sampai waktu dzuhur kemudian
lupa sholat dzuhur.
Dalam
tulisan ini sedikit mengungkap tentang orang yang kebanyakan tidur di bulan
suci Ramadhan yang terkadang disanggah dengan "tidur adalah ibadah dari
pada membicarakan orang lain, lebih baik
tidur". Sebenarnya kasus seperti ini bukan saja menggerogoti pihak-pihak
tertentu akan tetapi tua, muda juga terkena perilaku seperti hal tersebut.
Pandangan-pandangan seperti yang di ataslah yang banyak dibicarkan oleh
masyarakat di luar sana. Oleh sebab itu mari kita lihat pandang menurut ilmu
fiqh di bawah ini:
Kalau
kita tinjau lebih jauh, tidur pada siang hari sebenarnya tidak jadi masalah
selagi tidak meninggalkan kewajiban seperti sholat lima waktu. Karena dianggap
tidak menafikan puasa, tidak mengilangkan kesadaran secara keseluruhan bahkan
kapan saja dia diingatkan dia akan ingat, bukan seperti orang gila kalau orang
gila maka dia tidak wajib puasa. Yang kedua seseorang harus faham betul tentang
kondisi dan keadaan, kalau punya anak istri, kerjaannya tidur saja, sedangakan
keadaan harus menuntut iya harus mencari nafkah, maka hendaknya dia berkerja
daripada tidur agar bisa menafkahi anak dan istrinya.
kesimpulannya
tidak mengapa tidur siang hari maupun malam, jika memang tidak mengakibatkan
hilangnya kewajiban dan tidak juga terjerumus kepada sesuatu yang Allah
haramkan. Misalnya Menjaga sholat lima waktu, menunaikan semua tugas yang harus
ditunaikan baik pada instansi pemerintah, pegawai, karyawan, mahasiswa dan
masyarakat pada umumnya. Akan lebih baik lagi kalau dalam kesempatan yang
diberikan oleh Allah ini setiap waktu kita isi dengan ibadah dan nilai-nilai
kebaikan, kita jadikan ramadhan madrasah bagaimana kita menyayangi, menyantuni
kaum fakir miskin dan kita sadar bahwa,
kita diciptakan untuk saling berbagi, yang akhirnya kita mampu menembus sebagai
insan yang menang dan merdeka sehingga mendapatkan kemudahan dalam
mengaplikasikannya di bulan-bulan yang lain. Amin ya rabb.
Penulis: Ahmad Fakhri Hasan



KOMENTAR