Indonesia merupakan negara
kepulauan yang memiliki 17.508 pulau baik besar maupun kecil, dimana penduduk
antara satu pulau dengan pulau yang lain tidak merata dalam komposisi
jumlahnya, hal ini disebabkan karena kepadatan penduduk lebih berfokus pada
pusat-pusat pemerintahan. Hal inilah yang menyebabkan pemerintah menggulirkan
program transmigrasi ke berbagai daerah yang dianggap masih luas wilayahnya
dibanding dengan jumlah penduduk yang mendiami wilayah tersebut, seperti
Sulawesi, Kalimantan dan Papua.
Papua yang letaknya di ujung timur Indonesa yang memiliki luas 3
kali pulau Jawa secara geografis berbatasan langsung dengan negara tetangga
yaitu Papua Nuguni. Memiliki keberagaman kultur budaya, adat istiadat dan agama
ini disebabkan karena perpaduan budaya asli Papua dan pendatang yang berasal
dari luar Papua. Para pendatang yang tersebar sampai pada pelosok-pelosok Papua
umumnya adalah para transmigran yang mendiami daerah-daerah tersebut sejak
digulirkannya program transmigrasi oleh pemerintah pusat. Pluralitas etnis,
agama dan budaya merupakan sebuah realita yang ada di propinsi Papua, ini dapat
dilihat dari salah satu sudut kota Jayapura yaitu wilayah yang berbatasan
langsung dengan negara tetangga Papua Nuguni adalah kampung Skouw Sae, dimana
penduduk asli beragama Kristen Protestan, sedangkan para pendatangnya banyak
sebagai pemeluk muslim yang umumnya para transmigran yang berasal dari wilayah
luar Papua, yaitu berasal dari Jawa, Maluku dan ada pula yang berasal dari
Sulawesi.
Realita sekarang yang terjadi di kampung Skow Sae, kerukunan umat
beragama sangatlah tinggi sehingga membawa dampak yang sangat positif untuk
kenyamanan dan perdamaian, sehubungan dengan kerukunan atau toleransi yang
sangat patut untuk dicontoh, penulis mencoba menelusuri bagaimana nilai
toleransi umat beragama di kampung Skow Sae? Yang saat ini masih menjadi
kampung yang tetap hidup rukun damai dan saling mengasihi.
Sungguh tidak diragukan lagi masyarakat Skouw Sae sudah patut
dijadikan contoh untuk masyarakat yang ada di daerah lain yang juga memiliki
keragaman dalam hal perbedaan yang memang semestinya menjadi ciri khas
Indonesia tapi tetap satu untuk mencapai tujuan yang sama yaitu perdamaian dan
kesejahteraan masyarakatnya.
Kemudian apa yang
terjadi di kampung Skouw Sae terkait masalah toleransinya yang menjadi sangat
patut untuk dicontoh. Ada beberapa keunikan yang dilakukan umat Islam dan
Kristen di perbatasan timur Indonesia ini. Kejadian yang saat ini masih
eksistensi adalah bagaimana umat Islam menghormati agama kristen, ketika hari
minggu sebagai mana umat Kristen sedang beribadah, umat Islam bersepakat
serentak untuk tidak bekerja demi menghargai umat agama lain yang sedang
melakukan ibadahnya. Begitupun sebaliknya yang dilakukan agama pemeluk Kristen
kepada pemeluk agama Islam ketika hari jum’at umat yang beragama Kristen juga
tidak mau bekerja karena demi menghargai umat Islam yang sedang menunaikan
kewajiaban shalat jum’at. Para pedagang kalau sudah memasuki hari minggu pagi sampai
menjelang siang semua toko mereka tutup, jalanan pun sepi di kala hari minggu
ketika mereka melakukan ibadah. Hal ini terjadi hampir seluruh daerah kota
Jayapura sampai sekarang ini.
Selain dari itu
kebersamaan mereka dalam gotong royong juga terjadwal setiap bulannya sehingga
untuk menciptakan lingkungan yang baik dan silaturrahmi tetap terjaga, selalu
saja apa yang mereka lakukan tidak terlepas dari kebersamaan, hal ini terlihat
di saat hari-hari biasa, kalau kita lihat lebih jauh lagi, kalau tepat dengan
hari yang sangat istimewa misalnya hari Paskah, agama Islam pun juga ikut
membantu untuk membersihkan gereja agar terwujud peribadahan yang nyaman dan
bersih. Sebaliknya lagi agama kristen juga tidak pernah alpa untuk bersama-sama
dalam membangun masjid bahkan sesosok kepala kampung pun turun tangan untuk
mengecat masjid yang ada di kampung Skouw Sae.
Selain dari itu, misalnya hari besar Islam, sebut saja Isra Mi’raj
jangan salah dengan agama Kristen di kampung Skouw Sae Ini, mereka berdatangan
untuk memenuhi undangan Isra dan Mi’raj yang dilakukan oleh umat Islam bahkan
ada yang memberi sambutan sebelum acara inti dimulai. Tidak ada kata yang
kurang yang dilakukan masyarakat Islam Kristen Perbatasan ini dalam mengujutkan toleransi demi ketuhanan yang maha esa.
Sungguh ironis di
negara kita ini masih banyak yang kurang mengerti arti kebersamaan itu, padahal
kebersamaan itu indah. Beberapa tahun terakhir banyak terjadi perpecahan dalam
bangsa ini, perbedaan budaya dan keyakinan kerap kali menjadi pemicu terjadinya
konflik dan kekerasan antar umat beragama. Kurangnya kesadaran toleransi dan
saling menghargai antar sesama merupakan hal yang memperihatinkan bagi bangsa
ini. Masyarakat perkotaan atau perdesaan tak jarang saling sikut, saling olok,
dan berseteru karena perbedaan keyakinan dan pemahaman. Padahal keberagaman dan
perbedaan bisa menjadi kekuatan bangsa ini untuk membangun Indonesia yang lebih
maju dan progresif. Untuk menjaga persatuan bangsa indonesia tidak ada salahnya
kita memahami betul makna toleransi yang sesungguhnya. Toleransi adalah
menghargai, membolehkan, kebiasaan, kekuatan dan lain sebagainya. Tillman
menjelaskan bahwa toleransi adalah saling menghargai melalui pengertian dengan
tujuan perdamaian.
Kebebasan beragama
menurut Islam adalah hak asasi bagi setiap individu apakah sebagian kita lupa
kepada perkataan Nabi? Bahwa Nabi Muhammad SAW mengatakan Man adza dzimmiyan
faqod adzany (barang siapa mencela kelompok non muslim berarti mencela
saya). Artinya nabi menginginkan perdamaian dan saling menenghormati satu dan
yang lainnya, inilah yang dilakukan sejak zaman nabi dan yang dilakuakan oleh
para sahabat dan ulama sampat saat ini. Oleh sebab itu perlu kita gali
bersama-sama nilai-nilai yang dibawa Islam sesungguhnya itu memang benar untuk
kemaslahatan linnas (semua manusia).
Dalam artikel ini penulis kira cukuplah menjadi contoh untuk menuju
perdamaian dan kesejahteraan bangsa ini, apa yang dilakukan oleh masyarakat
yang ada di perbatasan Indonesia mereka berbeda agama sama seperti Indonesia
pada umumnya, bukan hanya di perbatasan. Maka patutlah kita mencoba untuk tetap
hidup rukun dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan masyarakat kampung Skouw Sae
(Perbatasan Indonesia dan Papua Nugini).
KKN Lintas Nusantara merupakan tempat atau ruang untuk pemuda dan
pemudi Indonesia berekspresi, berkarya, berfikir, bertindak, berubah dengan
membawa bangsa ini agar lebih baik. Sumbangsih pemikiran gagasan dan tenaga
semuanya di kerahkan hanya untuk Indonesia tercinta. Melalui bentuk kerjasama antar perguruan tinggi IAIN
Fatahul Mulk Jayapura, IAIN Jember dan IAIN Palangka Raya, yang salah satu
tujuannya adalah sebagaimana telah di sampaikan oleh kepala P3M pak Parto saat
pembekalan dan perkenalan mahasiswa KKN Lintas Nusantara yaitu untuk membangun
generasi-generasi yang Rahmatan Lil ‘Alamin (IRA)
senada seperti yang dikatakan oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. TGB. Zainul
Majdi, Lc. MA. Dalam acara pembukaan lombok Yauth Camp 2018 yang semua
pesertanya adalah 200 perta pemuda dan pemudi se PTKIN di- Indonesia. “Untuk
Indonesia Pemuda adalah harapan, dan untuk Indonesia pemuda adalah kejayaan”.
Sangat jelas sekali bahwasanya bangsa ini menaruh harapan yang sangat besar
terhadap pemuda dan pemudi yang berjiwa Islam Rahmatan Lil A’lamin.
Sebagai kesimpulan dari artikel ini. Bahwa membangun toleransi itu
sangatlah mudah, perlunya di antara kita yang ragam perbedaan ini saling
menurunkan rasa egoisme masing-masing walaupun berbeda keyakinan dan pemahaman.
Masyarakat Skouw Sae sudah mencontohakan itu, bahkan lebih. Mereka sudah sampai
ke tahap satu kesatuan, jalinan kasih sudah ada dalam kehidupan mereka, dan ini
terlihat dari perilaku dan perbutan mereka sehari-hari sejak dulu sampai
sekarang.
Maka dari itu, Melalui artikel atau tulisan yang sederhana ini
penulis mengharapkan agar bisa dibaca oleh setiap kalangan, mungkin kalau tidak
banyak yang bisa membuat diri kita sadar sedikitpun tidak jadi masalah, karena
hidup ini tidak lepas dari proses. Proses untuk berubah menjadi yang terbaik.
Toleransi yang telah dilakukan masyarakat Skow Sae secara sederhana tertulis
dalam buku ini, semoga pemuda dan pemudi lainya mampu menyempurnakan hal-hal
yang belum diketahui sehingga ke depan bisa menjadi rujukan yang paling kuat
dan pegangan untuk kita semua.
Ditulis
Oleh Ahmad Fakhri Hasan, Mahasiswa IAIN Palangkaraya, KKN Nasional Di Papua



KOMENTAR