oleh : Asep
Muhamad Iqbal
Pendahuluan
Selama empat belas abad ini, khazanah intelektual Islam
diperkaya dengan berbagai macam perspektif dan pendekatan dalam menafsirkan Alquran. Setiap mufassir (penafsir Alquran)
berusaha menafsirkan Alquran dengan perspektif yang dipilihnya sesuai latar
berlakang disiplin keilmuannya, lingkungan sosio-politik di mana ia hidup,
mazhab teologis, mazhab fiqh dan sebagainya. Dengan demikian, tumbuhlah
dengan pesat tradisi penafsiran Alquran dengan lahirnya berbagai kitab tafsir
dan mazhab yang terbentuk atas dasar masing-masing tafsir tersebut. Misalnya,
tafsir teologis, filosofis, sufistis, hukum, saintis dan sebagainya (Lihat, misalnya, al-Zahabiy 1986).
Namun, terdapat kecenderungan
yang umum dari berbagai perspektif dan pendekatan tafsir tersebut bahwa para mufassir menafsirkan Alquran secara ayat-per ayat
sesuai susunannya dalam mushaf dan
pemahamannya lebih didasarkan pada pendekatan filologis-gramatikal. Cara
penafsiran seperti ini dinamakan ‘metode tafsir analitis’ (al-ittijah al-tajziy fi al-tafsir).
Konsekuensi logisnya, kecenderungan ini telah
menghasilkan pemahaman yang parsial (sepotong-potong) tentang pesan-pesan Alquran. Tujuan semula untuk
memperoleh pesan-pesan Alquran secara integral menjadi terabaikan. Pada kenyataannya, pendekatan
ini sering melepaskan ayat dari konteks kesejarahannya akibat dipengaruhi oleh tujuan untuk mendukung sudut-pandang tertentu. Gagasan-gagasan asing atau
prakonsepsi-prakonsepsi sering dipaksakan ke dalam Alquran tanpa memperhatikan
konteks kesejarahan dan kesusastraan kitab suci ini seperti yang tampak pada tafsir dengan
pendekatan teologis, filosofis dan sufistis dan saintis.
Kenyataan ini --bahwa metode penafsiran Alquran secara ayat-per ayat yang telah memperlakukan Alquran
secara "tidak adil"-- telah mendorong para pakar tafsir modern
untuk menyusun sebuah metode penafsiran yang dapat mengungkapkan pandangan-dunia Alquran secara
integral. Metode ini dinamakan ‘pendekatan tematik atau sintesis’ (al-ittijah al-tauhidy aw al-maudu'iy fi al-tafsir).
Essay ini akan membahas apa urgensi tafsir tematik bagi Muslim modern.
Ia berargumen bahwa tafsir tematik merupakan metode tafsir alternatif penting
yang harus dikembangkan oleh sarjana dan ulama Islam modern untuk mengungkapkan
pandangan-dunia al-Quran dalam upaya menjadikan Alquran sebagai petunjuk dalam
kehidupan modern. Untuk itu, pada bagian selanjutnya, artikel ini membahas
dasar-dasar penafsiran metode tematik, menjelaskan langkah-langkah operasional
tafsir tematik, menjelaskan kelebihan metode tematik dibanding metode analitik,
dan, terakhir, menjelaskan nilai strategis tafsir tematik bagi upaya penggalian
pandangan-dunia Alquran bagi dunia modern.
Dasar-dasar Penafsiran Metode Tematik
Metode tafsir ini dinamakan
‘tematik’ karena ciri pertamanya adalah
memulai dari
sebuah tema yang berasal dari kenyataan eksternal dan kembali ke Alquran dan disebut ‘sintesis’ karena berupaya untuk
menyatukan pengalaman manusia dengan Alquran. Namun, ini tidak berarti bahwa metode ini berusaha untuk
memaksakan pengalaman atau kenyataan eksternal kepada Alquran dan menundukkan Alquran
kepadanya. Sebaliknya, ia menyatukan keduanya
(pengalaman-kenyataan dan Alquran) dalam
konteks sebuah pencarian tunggal yang ditujukan untuk sebuah
pandangan Alquran mengenai suatu pengalaman atau kenyataan tertentu atau
gagasan tertentu yang dibawa mufassir
ke dalam pencariannya. Selain itu, metode tafsir ini disebut ‘tematik’ atas dasar cirinya yang
kedua, yakni
mengumpulkan semua ayat yang berhubungan dengan sebuah tema yang sudah
ditentukan. Ia sintesis karena ia melakukan sintesa terhadap ayat-ayat berikut
artinya ke dalam pandangan-dunia Alquran.
Metode tematik tidak sepenuhnya orisinil corak tafsir abad 20. Metode ini sebenarnya
berpijak pada diktum yang terdapat dalam ulumul qur'an, tapi ironisnya tidak dikembangkan oleh para mufassir klasik, yaitu al-munasabat bain al-ayat wa al-suwar, dan al-Qur'an yufassiru ba’duh ba'da (al-Suyuti 1988, Juz 3; al-Qattan, t.t., 97-99).
Para tokoh Muslim yang dipandang sebagai penggagas metode
tematik adalah Aisyah Abdurrahman bint asy-Syathiy yang mengemukakan metode ini dalam
karyanya al-Tafsir al-Bayany li al- Qur'an al-Karim (1962), Abdul Hayy al-Farmawy dalam al-Bidayah
fi al-Tafsir al-Maudu'iy (1977),
dan Muhammmad
Baqir Shadr yang merumuskannya dalam artikelnya, Pendekatan Tematik
terhadap Tafsir Alquran (1990) dan dalam karyanya Sejarah dalam Perspektif Alquran (1993).
Sebelum melakukan penafsiran, seorang calon mufassir tematik hendaknya berpijak pada pandangan-pandangan
yang menjadi dasar penafsiran metode tematik yang berfungsi sebagai penunjuk
arah dalam menafsirkan Alquran (Amal dan
Panggabean 1992:34-62). Pertama, Alquran adalah petunjuk bagi manusia
(al-Baqarah/2:185; Ali Imran/3:3-4, 138). Alquran haruslah selalu dapat memberikan bimbingan
kepada manusia dalam hidup dan kehidupannya. la harus memberikan jawaban atas
persoalan-persoalan kemanusiaan dan menjadi sumber makna dan nilai dalam
kehidupan manusia.
Kedua, sebagai pertunjuk Tuhan bagi manusia, pesan-pesan Alquran
bersifat universal (al-Anbiya/21: 107; al-Furqon/25: 1; Saba/34: 28).
Keuniversalan dan keabadian Alquran tidak hanya terletak pada wujud material
teks Alquran (doktrin ketidakmampuan manusia atau mahluk lainnya membuat satu
surat pun semisal Alquran[al-Baqarah/2:23-24]), melainkan juga terutama pada ajaran-ajarannya yang mampu
menjawab problematika kehidupan manusia di mana saja, kapan saja.
Ketiga, Alquran diwahyukan dalam situasi kesejarahan yang kongkret. Ia merupakan
respon (sahutan) Ilahi terhadap situasi keagamaan, keyakinan, pandangan-dunia
dan adat istiadat masyarakat Arab. Konteks kesejarahan ini mencakup kesejarahan
pra-Alquran dan masa Alquran. Yang terakhir ini istilah teknisnya dalam
ilmu tafsir disebut asbab al-nuzul (sebab-sebab pewahyuan).
Keempat, memperhatikan konteks sastra Alquran. Yakni konteks di mana suatu tema atau
istilah tertentu muncul atau digunakan dalam Alquran. Ia mencakup ayat-ayat
yang sebelum dan sesudah tema atau istilah tersebut serta rujukan silangnya
kepada konteks-konteks relevan yang terdapat di surat-surat lain. Ini
dimaksudkan untuk memahami makna suatu istilah atau tema, perubahan makna atau
perkembangannya di dalam sistem linguistik.
Kelima, memahami tujuan Alquran yang dirumuskan dari kajian-kajian yang melibatkan
konteks kesejarahan dan konteks literer suatu tema untuk menetapkan
pandangan-dunia Alquran. Pandangan-dunia ini menjadi pedoman dalam
menyelesaikan problematika masyarakat. Inilah yang dinamakan penyelesaian
Qur'ani.
Dasar penafsiran terakhir, mufassir
memproyeksikan pandangan dunia Alquran kepada
situasi kekinian untuk mememihi kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Jargon Alquran salih li kulli zaman wa makan (Alquran berlaku untuk semua masa adan
temapat) akan bermakna bila menempuh upaya ini.
Dasar-dasar penafsiran di atas semuanya diarahkan kepada penyelesaian
Qur'ani dan petunjuk praktis atas berbagai persoalan-persoalan kemanusiaan
dalam konteks kekinian. Pada konteks inilah terletak keabadian dan
keuniversalan Alquran.
Langkah-langkah Operasional Tafsir Tematik
Berangkat dari keenam dasar penafsiran yang dikemukakan di atas, dapat
dirumuskan langkah-langkah operasional yang harus ditempuh dalam menerapkan
metode tematik (al-Farmawy 1997; Boulatta 1974; bint Syathi 1977) sebagai berikut:
1. Menetapkan
masalah atau tema yang akan dibahas;
2. Mengumpulkan
ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah atau tema tersebut;
3. Menyusun
runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya (kronologis ayat dan surat) disertai
pengetahuan tentang asbab al-nuzul –nya;
4. Memahami
korelasi ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-masing;
5. Menyusun
kerangka pembahasan (outline);
6. Melengkapi
pembahasan dengan hadis-hadis dan riwayat-riwayat yang relevan dengan pokok
bahasan; dan
7. Mempelajari
ayat-ayat secara keseluruhan dengan cara menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai
pengertian yang sama atau mengkompromikan antara yang 'am (umum) dan
yang khas (spesifik), mutlak dan muqayyad (terikat), atau
yang pada lahirnya bertentangan, sehingga semuanya bertemu dalam suatu muara,
tanpa perbedaan atau pemaksaan.
Kelebihan Metode
Tematik
Menurut Muhammad Baqir al-Shadr, metode analitik yang selama ini mendominasi
cara penafsiran di kalangan Muslim pada kenyataannya telah menghambat
perkembangan tafsir itu sendiri dan sebaliknya metode tematik justru
mendorongnya dan membawa kepada perluasan kreatif dalam lingkup ijtihad (al-Shadr 1990:32). Karena itu, metode tafsir tematik memiliki peranan penting dalam
upaya menjadikan Alquran petunjuk hidup (hudan)
bagi kehidupan manusia kontemporer dalam menghadapi tantangan dan problema
modernitas. Terdapat beberapa alasan mengapa metode tematik diyakini dapat
memainkan peran penting bagi kehidupan Muslim modern (al-Shadr 1990: 31-32).
Pertama, berbeda dari mufassir metode analitik yang umumnya pasif, mufassir dengan metode
tematik bersikap aktif dengan mendialogkan antara kenyataan dan Alquran. Mufassir metode analitik memulai penafsirannya dengan membahas sebuah
naskah Alquran tertentu, misalnya, sebuah ayat atau kalimat tanpa merumuskan
dasar-dasar pemikiran atau rencana terlebih dahulu. Kemudian ia mencoba untuk
menetapkan pengertian Alquran dengan bantuan perbendaharaan Alquran dan
berbagai indikasi yang ada padanya dalam naskah khusus tersebut atau di luar
naskah itu. Maka dapat dikatakan usahanya ini terbatas pada penjelasan sebuah
naskah Alquran tertentu. Dalam hal ini, peran naskah serupa dengan pembicara dan
tugas mufassir ialah mendengarkan
dengan penuh perhatian dan memahaminya. Jadi, peran mufassir pasif sementara Alquran memainkan peranan aktif karena Alquran
menonjolkan arti harfiahnya dan mufassir
mencatatnya di dalam tafsirnya pada batas-batas pemahamannya.
Sebaliknya, mufassir yang menggunakan metode tematik tidak
memulai aktivitasnya dari naskah Alquran, tetapi dari realitas
kehidupan. Ia memusatkan perhatiannya pada sebuah subyek dari berbagai masalah
yang berhubungan dengan kehidupan sosial atau kosmologis atau yang lainnya.
Setelah itu, ia
kembali kepada naskah Alquran, tetapi tidak dalam posisi sebagai pendengar pasif
dan seorang pencatat karena ia menempatkan sebuah topik atau masalah
yang ada dan sejumlah pandangan dan gagasan manusia di hadapan Alquran. Dengan
begitu, sang mufassir
memulai sebuah dialog dengan Alquran di mana ia bertanya dan Alquran
memberikan jawabannya. Tujuannya adalah menemukan pandangan Alquran mengenai
subyek kajian yang berhubungan dengan kenyataan hidup dan pengalaman manusia.
Dengan demikian, hasil dari tafsir tematik berada dalam
rantai yang konstan dengan pengalaman manusia karena ia memotret sudut-sudut
pandang sebagaimana ia menetapkan suatu pendekatan untuk menemukan pandangan
Islam mengenai isu apapun dalam kehidupan. Pada konteks ini, Alquran menyatu dengan kenyataan dan
kehidupan manusia karena tafsir tematik mulai dari kenyataan dan berakhir
dengan Alquran. Pernyataan Ali bin Abi Talib bahwa "Jadikanlah Alquran
berbicara kepadamu" merupakan ungkapan yang paling indah untuk
menggambarkan fungsi tafsir tematik sebagai sebuah dialog dengan Alquran dengan
menghadapkan subyek tertentu kepada al- Qur'an dan biarkan Alquran berbicara
menjawab masalah masalah tersebut.
Kedua, metode tematik selangkah
lebih maju daripada metode analitik. Metode analitik membatasi dirinya pada
pengungkapan arti-arti ayat-ayat Alquran yang terperinci, sementara metode tematik
menuju pada sesuatu yang lebih dari itu dan mempunyai lingkup pencarian yang
lebih luas. Metode tematik berusaha mengungkapkan hubungan antar ayat-ayat yang
berbeda --yang sebenarnya perinciaannya
telah disediakan oleh metode analitik-- untuk sampai pada sebuah susunan pandangan Alquran
yang utuh. Dengan demikian, tafsir tematik bertujuan untuk menetapkan pandangan
yang mewakili sikap al-Qu'an tentang sebuah isu tertentu dari berbagai masalah
ideologis, sosial, kosmologis dan sebagainya (al-Shadr 1990:32).
Dari penjelasan di atas, tampak bahwa metode tematik lebih baik daripada metode analitik
karena ia lebih bisa memahami Alquran secara integral dan berhasil menetapkan
perspektif Alquran tentang berbagai problematika kehidupan. Namun, sebagaimana
diungkapkan al-Shadr (1990:36), ini tidak berarti bahwa tafsir analitik
tidak diperlukan lagi. Bahwa sebuah metode itu baik tidaklah selalu menghapus
metode sebelumnya. Masalahnya adalah bukanlah penggantian atau penghapusan
suatu metode oleh metode lainnya melainkan penyatuan kedua metode tersebut.
Maksudnya adalah menambahkan metode tematik kepada metode analitik yang telah
menyediakan
bahan-bahan dasar bagi metode tematik. Metode tematik hanyalah selangkah lebih maju daripada metode analitik.
Nilai Strategis Tafsir Tematik bagi Muslim Kontemporer
Selain kelebihan di atas, metode tafsir tematik memiliki nilai strategis
bagi kehidupan Muslim modern. Tujuan
yang hendak dicapai metode tematik adalah menetapkan pandangan-pandangan atau
konsepsi-konsepsi Alquran di mana dengannya realitas kehidupan dan
pengalaman empirik dan intelektual masyarakat memperoleh sinaran Alquran.
Pertanyaannya sekarang adalah mengapa pandangan-pandangan dan konsepsi-konsepsi
Alquran ini perlu diungkapkan kembali? Apakah dahulu Nabi Muhammad (s.a.w) tidak
mengajarkan kepada umatnya pada masa awal Islam? Kiranya, ada dua faktor yang
mendorong perlunya pengungkapan kembali pandangan-dunia Alquran melalui metode tematik: Faktor pertama berkaitan dengan persoalan internal masyarakat Muslim dalam memahami
pandangan-pandangan dan konsepsi-konsepsi Alquran; dan factor kedua berhubungan dengan
zaman yang terus berkembang dan interaksi komunitas Islam dengan komunitas lain
di luar Islam yang bolehlah kita sebut faktor eksternal (al-Shadr 1990:35).
Faktor
Internal
Terdapat jarak kognitif antara generasi awal Islam dengan umat Muslim kontemporer dalam
memahami pandangan-pandangan Alquran. Nabi Muhammad (s.a.w) memperkenalkan
pandangan-pandangan dan konsepsi Alquran dengan jalan menerapkannya dalam
suasana Qur'ani yang diciptakan dalam masyarakat Islam awal. Setiap Muslim yang hidup dalam
suasana tersebut memahami pandangan-pandangan Alquran ini walaupun mungkin
hanya ikhtisarnya dan secara tak sadar karena suasana pendidikan, spiritual,
intelektual dan sosial yang dibangun oleh Nabi Muhammad mampu memberikan sebuah visi yang
jelas untuk menilai situasi-situasi dan insiden-insiden yang berbeda-beda. Para
sahabat yang hidup bersama-sama dengan Nabi Muhammad, walaupaun mereka tidak
belajar secara formal, betul-betul memahami pandangan-pandangan Alquran
dengan utuh. Pandangan-pandangan itu terpatri di dalam benak mereka dan
tersirat dalam pemikiran mereka. Jadi, kondisi sosial, spiritual dan dan
intelektual masa itu, di mana mereka hidup, begitu sangat kondusif untuk
memahami pandangan-panadangan Alquran walaupum hanya garis besarnya saja
dan cukup untuk menciptakan kriteria yang memadai untuk suatu penilaian.
Pada masyarakat Islam kontemporer, suasana profetis seperti
itu sudah tidak didapati lagi. Perubahan zaman dan jauhnya dari “sekolah Nabi” (school of Prophet) membuat pemahaman atas pandangan-pandangan Alquran
mengalami reduksi, bahkan distorsi. Dengan demikian bisa
dikatakan ketika suasana profetis tidak ada lagi pada masa kini, mengkaji dan
menetapkan pandangan-pandangan dan konsepsi-konsepsi Alquran menjadi suatu
kebutuhan mendasar. Pada konteks inilah metode tematik yang menginginkan terciptanya
pandangan-pandangan Alquran memperoleh signifikansinya.
Faktor
Eksternal
Kebutuhan untuk merumuskan pandangan-pandangan Alquran
semakin medesak dilakukan ketika dunia sekarang telah berubah menjadi “desa global” di mana interaksi
antarmasyarakat dan antarperadaban semakin intens dan pengalaman serta
intelektual manusia semakin kompleks. Pada situasi seperti ini, seorang Muslim mendapatkan dirinya
di hadapan berbagai macam gagasan dan problematika kehidupan yang beragam. Ada
dua kemungkinan yang akan terjadi dalam situasi seperti ini: pertama, menutup diri dan melakukan
tindakan reaktif dengan cara melakukan countertrend demi menjaga
'kemurnian' agamanya; dan kedua, membuka diri dengan penuh rasa percaya diri
menjawab tantangan dan problematika dunia global. Bila yang pertama yang
dipilih, maka
yang terjadi adalah Islam menjadi agama eksklusif dan kehilangan energi untuk
menjawab pesoalan kemasyarakatan. Tentu saja hal ini tidak diharapkan oleh
setiap Muslim
dan bertentangan dengan pengakuan Alquran sebagai rahmat bagi alam semesta.
Jika pilihan kedua yang diambil, yakni membuka diri dengan penuh
rasa percaya diri menjawab tantangan dan problematika dunia global, maka masyarakat Muslim harus mempunyai
perangkat yang bisa mewakili pandangan Islam yang utuh; sebuah pandangan yang
bersumber pada Alquran yang mampu memberikan jawaban terhadap
persoalan-persoalan kemasyarakatan dunia global. Pada konteks ini, metode tematik menegaskan
kembali nilai strategis dan signifikansinya. Dengan penafsiran metode tematik, Alquran
menyatu dengan kenyataan hidup dan membumi dalam problematika sosial. Alquran
yang mendaku sebagai petunjuk bagi manusia tidak sekedar menjadi doktrin yang
lepas dari kehidupan, melainkan benar-benar menunjukkan petunjuk
praktisnya yang ril bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya.
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, dapatlah dikatakan bahwa tafsir tematik
merupakan metode tafsir alternatif yang penting untuk dikembangkan oleh ilmuwan
dan ulama Islam dalam upaya menjadikan Alquran sebagai hudan (petunjuk hidup) bagi Muslim modern dengan segala tantangan
dan problematikanya. Urgensi metode tafsir ini terletak pada kemampuannya
mengungkapkan bagi Muslim modern pandangan-pandangan Alquran yang integral bagi
persoalan-persoalan dan realitas kehidupan modern. Hal ini disebabkan oleh
nilai lebih tafsir tematik yang mampu menjadikan mufassir sebagai agen aktif ketika berhadapan dengan realitas dan
pengalaman masyarakat modern sehingga menjadikan Alquran menyatu dan menyapa
kehidupan nyata setiap Muslim. Selain itu, tafsir tematik dianggap memiliki
nilai strategis sebagai sebuah pendekatan tafsir yang mampu menghadirkan
kembali pandangan-dunia Alquran bagi Muslim kontemporer yang sekitar 15 abad
jauhnya dari Nabi Muhammad dan sekolah kenabiannya.
Referensi
Amal, Taufik
Adnan dan Panggabean, Syamsu Rizal, Tafsir Kontekstual, Sebuah Kerangka Konseptual (Bandung:
Mizan, 1992), cetakan ke-3.
Boulatta, Issa
J., "Modern Qur'an Exegesis: A Study of Bint Shathi's Methode", The
Muslim World, Vol. LXIV, No. 2, April 1974.
al-Farmawiy, Abdul
Hayy, Al-Bidayah
fi al-Tafsir
al-Maudu'iy (Kairo:
Al-Hadarah ah-Arabiyah, 1977), cetakan ke-2.
al-Qattan,
Manna’, Mabahis fi Ulum Alquran (Mansyurat al-Ashr al-Hadis, ttp, tth).
al-Shadr, M. Baqir, "Pendekatan
Termatik terhadap Tafsir Alquran", terjemahan Monik Bey, Ulumul Qur'an,
Vol. II, No. 4, 1990.
al-Suyuti, Jalal al-Din, Al-Itqan fi Ulum al-Quran, diedit dan diberi komentar oleh Muhammad Abu
al-Fadl Ibrahim (Beirut: Al-Maktabah al-Asriyah, 1988/1408).
al-Shatiy, Aisyah
Abd al-Rahman bint, Al-Tafsir al-Bayany li Alquran al-Karim (Kairo: Dar al-Maarif, 1977), Juz I, cetakan ke-5.
al-Zahabiy, Muhammad
Husein, Tafsir wa al-Mufassirun (Dar al-Kutub al-Hadisah, 1986). 2 volume.


KOMENTAR