![]() |
| Foto di Masjid besar Pattani, Thailan Selatan |
![]() |
| murid-murid kelas 5 atau 1 SMA |
![]() |
| usai kegiatan di pondok, mengaji dan baca kitab |
Indonesia Youth Teacher Exchange Program
(IYTEP) yang diadakan oleh Leanguage Lovers Club (L2C) bekerjasama dengan Universitas Rajabhat dan PERSAIT (Persatuan Alumni Indonesia-Thailand).
L2C yang merupakan Lembaga pengajaran bahasa dan program studi di Luar negeri. kali ini kembali mengirimkan perwakilan
Indonesia ke Thailand Selatan. Program yang mengirimkan
perwakilan dari setiap kampus di Indonesia ini tidak lepas dari pengamatan tim
Al-Mumtaz terlebih salah satu perwakilannya membawa nama IAIN Palangka Raya.
Ahmad
Rusda Yanto, Mahasiswa prodi Tardis Bahasa Inggris semester 5 menjadi salah
satu mahasiswa yang terpilih mewakili IAIN Palangka Raya dalam mengikuti
program IYTEP ini. Dalam wawancara tim Al-Mumtas (13/08) Rusda menceritakan
sedikit pengalamannya dalam mengikuti program ini. Dalam rentang waktu yang
cukup singkat sekitar 24 hari yakni dari
tanggal 16 juli-08 Agustus bertempat di Thailand Selatan, yang mana mereka akan
ditempatkan di sekolah-sekolah yang telah ditentukan panitia PERSAIT.
![]() |
| foto bersama babo/ayah angkat selaku kepala sekolah |
Program
yang sekilas terlihat layaknya mahasiswa KKN pada umumnya ini dilakukan dengan
proses belajar-mengajar baik dalam jam sekolah seperti pengajaran akademik dan
diluar jam sekolah yaitu pengajaran spiritual pada anak. Sebelum program dilaksanakan, para pesertapun diberikan pelatihan dan motivasi yang dilaksanakan di Universitas di Thailand.
“Sebagai anak Bahasa” kata Rusda “saya mengajarkan pelajaran bahasa. Dalam program ini, kami dituntut untuk mengajarkan pelajaran seperti kebahasaan dan keagamaan kepada anak-anak. Seperti bahasa Melayu, Indonesia, Arab dan Inggris.” Menurut penuturannya, Mahasiswa yang terikat disini tidak hanya mengajarkan program yang wajib saja, ,meliputi non akademik yang mereka kuasaipun dapat diajarkan juga.
“Sebagai anak Bahasa” kata Rusda “saya mengajarkan pelajaran bahasa. Dalam program ini, kami dituntut untuk mengajarkan pelajaran seperti kebahasaan dan keagamaan kepada anak-anak. Seperti bahasa Melayu, Indonesia, Arab dan Inggris.” Menurut penuturannya, Mahasiswa yang terikat disini tidak hanya mengajarkan program yang wajib saja, ,meliputi non akademik yang mereka kuasaipun dapat diajarkan juga.
Tidak
hanya itu, mereka juga berkesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan
warga sekitar tempat mereka ditugaskan. Seperti Rusda, yang ditempatkan di
sekolah Pula Pattana Wittaya School di daerah Pattani, ia merasa sangat bersahabat dengan lingkungan yang ditempatinya. Selain dalam hal kepengajaran di sekolah,
mereka juga mengadakan beberapa program di Masjid sekitar, seperti pengajaran
Tartil Qur’an, Khatib dan Bilal (khusus laki-laki), Tahfidz Qur’an untuk
anak-anak dan Nasyid.
![]() |
| foto bersama M.Fajri Mahasiswa S1 UIN Sunan Kalijaga |
Dengan
adanya program ini, anak-anak merasa senang dengan kehadiran mereka walaupun
dalam kurun waktu yang cukup singkat. merekapun memberikan suasana pengajaran yang
menarik untuk anak-anak di daerah tersebut hingga mereka senang dan antusias saat belajar. “Dengan berbekal sedikit arahan
dari para senior IYTEP, mengingat perbedaan bahasa yang digunakan antara kami
yang menggunakan bahasa Melayu-Klantan dan mereka yang menggunakan bahasa
Melayu-Pattani membuat kami sedikit kesulitan dalam berkomunikasi.” Tuturnya
dalam wawancara kami kali ini.
Sebagaimana yang sering dikatakan dimana ada perjumpaan pasti ada perpisahan, mungkin inilah yang mereka rasakan dengan warga Pattani saat program ini telah berakhir, sedikit rasa sedih pasti akan terasa saat sudah merasa nyaman dengan lingkungan yang ada, namun bukan berarti hal itu merupakan akhir dari segalanya. Sebagai mahasiswa yang baru menempuh semester 5 pengalaman ini tentu sangat berharga bagi Rusda sendiri. Diakhiri satu pesan dari narasumber kami kali ini, yaitu “untuk semua mahasiswa jangan pernah berhenti untuk bermimpi, karena semua perjalanan kita diawali dengan sebuah mimpi yang akhirnya akan membawa kita pada sebuah perjalanan yang sesungguhnya.”
Sebagaimana yang sering dikatakan dimana ada perjumpaan pasti ada perpisahan, mungkin inilah yang mereka rasakan dengan warga Pattani saat program ini telah berakhir, sedikit rasa sedih pasti akan terasa saat sudah merasa nyaman dengan lingkungan yang ada, namun bukan berarti hal itu merupakan akhir dari segalanya. Sebagai mahasiswa yang baru menempuh semester 5 pengalaman ini tentu sangat berharga bagi Rusda sendiri. Diakhiri satu pesan dari narasumber kami kali ini, yaitu “untuk semua mahasiswa jangan pernah berhenti untuk bermimpi, karena semua perjalanan kita diawali dengan sebuah mimpi yang akhirnya akan membawa kita pada sebuah perjalanan yang sesungguhnya.”







KOMENTAR